Sabtu, 14 November 2015

RESENSI DYAN SHELDON



RESENSI DYAN SHELDON



NAMA   : DINI FASYA PUTRI
KELAS  : 3EB22
NPM      : 22213572

Resensi adalah suatu penilaian terhadap sebuah karya.Karya yang dinilai dapat berupa buku dan karya seni film dan drama.Menulis resensi terdiri dari kelebihan,kekurangan dan informasi yang di peroleh dari buku dan disampaikan kepada masyarakat.

Judul Buku               : The Boy Of My Dreams
Pengarang                : Dyan Sheldon
Tahun Penerbit       : Cetakan Kedua Mei 2005
Cetakan                     : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta


Bone pasti merasa bersalah, karena dia berusaha mengajakku bicara tentang dia dan hope, setelah pelajaran bahasa Inggris pada ari Selasa.
            “Kata Hope, kemaren dia sudah brcerita padamu tentang hubungan kami,” kata Bone. Dia mengemasi buku-bukunya yang berserakan di meja. “Kau tahu, aku minta maaf, Mike. Sebenarnya aku ingin kami memberitahukannya padamu bersama-sama.”
            Kuraup buku-bukuku dari meja dan bergegas menuju pintu sebelah bone sempat menambahkan , “Tapi kau tidak pernah memberi kami kesempatan.”
“Tidak apa-apa,” sahutku.”Memang lebih enak tidak menjadi orang terakhir yang tahu, tapi aku mengerti kok.”
            Bone membuntut di belakangku. “well, menurutku begini, Mike.....mungkin siang nanti aku bisa datang ke rumahku dan kita bisa membicarakannya bersama-sama.”
“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan,”kataku meyakinkannya.” “Sungguh.”
            Bone mengangkat bahu. “Oke,kalau begitu bagaimana kalau kau tetap datang, tapi kita tidak akan membicarakannya.”
            Aku menghadiahinya salah satu senyumanku yang paling cerah. “Tidak bisa,” jawabku. “Sekarang kan hari Selasa. Sore nanti jadwaln Bill main basket.”
            Sekali ini,Bone tidak menanggapinya dengan gurauan tentang bola basket . “Well, kalau begitu,besok saja,” kata Bone.
            “Yeah, mungkin besok,” ujarku. Meski dalam hati aku tahu dalam kasus ini,hari esok tidak akan pernah datang.
            Terus terang saja,saat ini aku sedang tidak ingin main dengan Bone atau Hope,walaupun tetap saja,jauh di lubuk hatiku yang paling dalam, aku benar-benar kangen pada mereka.
            Penyebabnya bukan karena aku marah,atau bahkan karena aku merasa sakit hati.Sekarang aku justru merasa canggung. Bone dan aku duduk bersebelahan dalam kelas bahasa Inggris, kami bertiga masih makan sang bersam, hope dan aku masih jalan kaki bareng setiap pergi dan pulang sekola,tapi tetap saja terasa ada yang berbeda. Tingkah laku mereka tetap sama seperti hari-hari biasanya.Justru aku yang bingung bagaimana harus bersikap bila sedang bersama mereka. Aku merasa tersisih,seperti roda kecil tambahan,Roda kecil mungil yang menggelinding di samping kedua roda yang besar.

Ø    Kekurangannya
Kekurangan dari cerita di atas adalah mike yang mumpunyai sifat yang egois dan tidak mau mendengarkan penjelasan dari bone yang amat sangat merasa bersalah kepada mike.

Ø    Kelebihannya
Kelebihannya dari cerita di atas adalah seorang bone yang sangat bijak sana dalam menghadapi masalah,bertanggung jawab, dan mengatakan apa yang memang benar terjadi

PENALARAN DEDUKTIF



BAHASA INDONESIA 2
PENALARAN DEDUKTIF





NAMA DOSEN : Drs.BUDI SANTOSO
NAMA               : DINI FASYA PUTRI
NPM                   : 22213572 
KELAS               : 3EB22




FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015


KATA PENGANTAR


Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang penalaran Deduktif.

    Makalah ini telah saya susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu saya menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
   
    Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka saya menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar saya dapat memperbaiki makalah  ini.
   
    Akhir kata saya berharap semoga makalah tentang Penalaran Deduktif untuk masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.
   






                                                                               Bekaso, November 2015



                                                                                   Penyusun






i
DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI....................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................1
1.1 Latar Belakang.....................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................1
1.3 Tujuan Penulisan..................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN......................................................................................2
            2.1  Pengertian Penalaran Deduktif..........................................................2
                2.2  Menarik Simpulan secara Langsung................................................2
2.3  Menarik Simpulan secara Tidak Langsung.........................................3
a.     Silogisme Kategorial.............................................................4
b.      Silogisme Hipotesis..............................................................6
c.      Silogisme Alterntif................................................................6
d.     Entimen..................................................................................6
BAB III KESIMPULAN.......................................................................................8
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................9
















ii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Manusia memiliki penalaran dimana tak terlepas dari pengguna bahasa. Penalaran cenderung sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Penalaran juga sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu masalah. Dalam menyelesaikan masalah tersebut, manusia harus menggunakan penalarannya dengan baik, agar bisa diselesaikan secara baik.
Berdasarkan uraian di atas,dapatlah dicatat bahwa proses bernalar atau singkatnya penalaran merupakan proses berpikir yang sistematik untuk memperoleh kesimpulan berupa pengetahuan.Kegiatan penalaran mungkin bersifat ilmiah atau tidak ilmiah.Dari prosesnya,penalaran itu dapat dibedakan sebagai penalaran induktif dan deduktif.penalaran ilmiah mencakup kedua proses penalaran itu.
Dalam penalaran terdapat proposisi, yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Terdapat dua metode penalaran yang bisa digunakan, yaitu penalaran deduktif dan penalaran induktif.Kami menyadari bahwa pembahasan mengenai penalaran ini sangatlah penting , terlebih dalam hal komunikasi. Biasanya apabila kita ingin mendaftar di suatu Universitas atau melamar pekerjaan, pasti ada tes IQ yang mencakup tes penalaran juga. Berikut kami akan membahas tentang penalaran deduktif .

1.2 Rumusan Masalah
a) Apakah yang dimaksud penalaran?
b) Apa makna dari berfikir deduktif?

1.3 Tujuan Penulisan
a) Mengetahui maksud dari penalaran.
b) Mengetahui makna dari berfikir deduktif.












1


BAB II
PEMBAHASAN


2.1  Pengertian Penalaran Deduktif

Penalaran Deduktif adalah proses penalaran untuk manarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku khusus berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat umum. Proses penalaran ini disebut Deduksi. Kesimpulan deduktif dibentuk dengan cara deduksi. Yakni dimulai dari hal-hal umum, menuku kepada hal-hal yang khusus atau hal-hal yang lebih rendah proses pembentukan kesimpulan deduktif tersebut dapat dimulai dari suatu dalil atau hukum menuju kepada hal-hal yang kongkrit. Contoh : Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan   (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status social.
Penarikan simpulan (konklusi) secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan dapat pula dilakukan secara tak langsung.
2.2  Menarik Simpulan secara Langsung
Simpulan (konklusi) secara langsung ditarik dari satu premis. Sebaliknya, konklusi yang ditarik dari dua premis disebut simpulan taklangsung.
Misalnya:
1)       Semua S adalah P. (premis)
 Sebagian  P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Semua ikan berdarah dingin. (premis)
Sebagian yang berdarah dingin adalah ikan. (simpulan)
2)      Tidak satu pun S adalah P. (premis)
Tidak satu pun P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Tidak seekor nyamuk pun adalah lalat. (premis)
Tidak seekor lalat pun adalah nyamuk. (simpulan)

2
3)      Semua S adalah P. (premis)
Tidak satu pun S adalah tak-P. (simpulan)
Contoh:
Semua rudal adalah senjata berbahaya. (premis)
Tidak satu pun rudal adalah senjata tidak berbahaya. (simpulan)
4)      Tidak satu pun S adalah P. (premis)
Semua S adalah tak-P. (simpulan)
Contoh:
Tidak seekor pun harimau adalah singa. (premis)
Semua harimau adalah bukan singa. (simpulan)
5     Semua S adalah P. (premis)
Tidak satu pun S adalah tak-P. (simpulan)
Tidak satu pun tak-P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Semua gajah adalah berbelalai. (premis)
Tak satu pun gajah adalah takberbelalai. (simpulan)
Tidak satu pu yang takberbelalai adalah gajah. (simpulan)

2.3  Menarik Simpulan secara Tidak Langsung
Penalaran deduksi yang berupa penarikan simpulan secara tidak langsung memerlukan dua premis sebagai data. Dari dua premis ini akan dihasilkan sebuah simpulan. Premis yang pertama adalah premis yang bersifat umum dan premis yang kedua adalah premis yang bersifat khusus.
Untuk menarik simpulan secara tidak langsung ini, kita memerlukan suatu premis (pernyataan dasar) yang bersifat pengetahuanyang semua orang sudah tahu, umpamanya setiap manusia akan mati, semua ikan berdarah dingin, semua sarjana adalah lulusan perguruan tinggi, atau semua pohon kelapa berakar serabut.
Beberapa jenis penalaran deduksi dengan penarikan secara tidak langsung sebagai berikut.


3
a.      Silogisme Kategorial
Yang dimaksud dengan kategorial adalah silogisme yang terjadi dari tiga proposisi. Dua proposisi merupakan premis dan satu proposisi merupakan simpulan. Premis yang bersifat umum disebut premis mayor dan premis yang bersifat khusus disebut premis minor. Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term minor dan predikat simpulan disebut term mayor.
Contoh:
Semua manusia bijaksana.
Semua polisi adalah bijaksana.
Jadi, semua polisi bijaksana.
            Untuk menghasilkan simpulan harus ada term penengah sebagai penghubung antara premis mayor dan premis minor. Term penengah adalah silogisme diatas ialah manusia. Term penengah hanya terdapat pada premis, tidak terdapat pada simpulan. Kalau term penengah tidak ada, simpulan tidak dapat diambil.
Contoh:
Semua manusia tidak bijaksana.
Semua kera bukan manusia.
Jadi, (tidak ada kesimpulan).
Aturan umum silogisme kategorial adalah sebagai berikut.
a)      Silogisme harus terdiri atas tiga term, yaitu term mayor, term minor dan term penengah.
Contoh:
Semua atlet harus giat berlatih.
Xantipe adalah seorang atlet.
Xantipe harus giat berlatih.
Term mayor            =          Xantipe.
Term minor =          harus giat berlatih.
Term penengah       =          atlet.
Kalau lebih dari tiga term, simpulan akan menjadi salah.
Contoh:
Gambar itu menempel di dinding.
Dinding itu menempel di tiang.
4
Dalam premis ini terdapat empat term yaitu gambar, menempel di dinding, dan dinding menempel ditiang. Oleh sebab itu, disini tidak dapat ditarik kesimpulan.
b)      Silogisme terdiri atas tiga proposisi, yaitu premis mayor, premis minor dan simpulan.
c)      Dua premis yang negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
Contoh:
Semua semut bukan ulat.
Tidak seekor ulat pun adalah manusia.
d)      Bilah salah satu premisnya negatif, simpulan pasti negatif.
Contoh:
Tidak seekor gajah pun adalah singa.
Semua gajah berbelalai.
Jadi, tidak seekor singa pun berbelalai.
e)      Dari premis yang positif, akan dihasilkan simpulan yang positif.
Contoh:
f)        Dari dua premis yang khusus, tidak dapat ditarik satu simpulan.
Contoh:
Sebagian orang jujur adalah petani.
Sebagian pegawai negeri adalah orang jujur.
Jadi, . . . (tidak ada simpulan)
g)      Bila salah satu premis khusus, simpulan akan bersifat khusus.
Contoh:
Semua mahasiswa adalah lulusan SLTA.
Sebagian pemuda adalah mahasiswa.
Jadi, sebagian pemuda adalah lulusan SLTA.
h)      Dari premis mayor yang khusus dan premis minor yang negatif tidak dapat ditarik satu simpulan.
Contoh:
Beberapa manusia adalah bijaksana.
Tidak seekor binatang pun adalah manusia.
Jadi, . . . (tidak ada simpulan)

5
b.      Silogisme Hipotesis
Silogisme hipotesis adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi kondisional hipotesis.
Kalau premis minornya membernarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Kalau premis minornya menolak anteseden, simpulan juga menolak konsekuen.
Contoh:
Jika besi dipanaskan, besi akan memuai.
Besi dipanaskan.
Jadi, besi memuai.
Jika besi tidak dipanaskan, besi tidak akan memuai.
Besi tidak dipanaskan.
Jadi, besi tidak akan memuai.
c.     Silogisme Alterntif
Silogisme alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Kalau premis minornya membenarkan salah satu alternatif, simpulannya akan menolak alternatif yang lain.
Contoh:
Dia adalah seorang kiai atau profesor.
Dia seorang kiai.
Jadi, dia bukan seorang profesor.
Dia adalah seorang kiai atau profesor.
Dia bukan seorang kiai.
Jadi, dia seorang profesor.
d.      Entimen
Sebenarnya silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun dalam lisan. Akan tetapi, ada bentuk silogisme yang tidak mempunyai premis mayor karena premis mayor itu sudah diketahui secara umum. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.

 
Contoh:
Semua sarjana adalah orang cerdas.
Ali adalah seorang sarjana.
Jadi, Ali adalah orang cerdas.
Dari silogisme ini dapat ditarik satu entimen, yaitu “Ali adalah orang cerdas karena dia adalah seorang sarjana”.        
Beberapa contoh entimen:
Dia menerima hadiah pertama karena dia telah menang dalam sayembara itu.
Dengan demikian, silogisme dapat dijadikan entimen. Sebaliknya, sebuah entimen juga dapat diubah menjadi silogisme.
































7
BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan

Penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis. Dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian. Pada proses induksi atau penalaran induktif akan didapatkan suatu pernyataan baru yang bersifat umum (general) yang melebihi kasus-kasus khususnya (knowledge expanding), dan inilah yang diidentifikasi sebagai suatu kelebihan dari induksi jika dibandingkan dengan deduksi.Hal ini pulalah yang menjadi kelemahan deduksi. Pada penalaran deduktif, kesimpulannya tidak pernah melebihi premisnya. Inilah yang ditengarai menjadi kekurangan deduksi.Alternatif dari penalaran deduktif adalah penalaran induktif. Perbedaan dasar di antara keduanya dapat disimpulkan dari dinamika deduktif tengan progresi secara logis dari bukti-bukti umum kepada kebenaran atau kesimpulan yang khusus sementara dengan induksi, dinamika logisnya justru sebaliknya.

Penalaran induktif dimulai dengan pengamatan khusus yang diyakini sebagai model yang menunjukkan suatu kebenaran atau prinsip yang dianggap dapat berlaku secara umum.
Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti.























8
DAFTAR PUSTAKA



·         http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaranv
·         http://ykrespati.wordpress.com/2011/10/27/macam-macam-penalaran/v
·         http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2012/03/penalaran-deduktif-59/v
·         http://anggitata.wordpress.com/2011/03/11/penalaran-deduktif/v













Tugas 7 ( Pelaporan keuangan dan perubahan harga )

Nama Jurnal Jurnal Akuntansi dan Keuangan Volume / Halaman VOL. 8, NO. 1, /71-77 Nama Penulis ...