BAHASA INDONESIA 2
PENALARAN DEDUKTIF
NAMA DOSEN : Drs.BUDI SANTOSO
NAMA : DINI FASYA PUTRI
NPM : 22213572
KELAS : 3EB22
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut
nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan
puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang penalaran
Deduktif.
Makalah ini telah saya susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini.
Untuk itu saya menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa
masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh
karena itu dengan tangan terbuka saya menerima segala saran dan kritik dari
pembaca agar saya dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata saya berharap semoga makalah tentang Penalaran
Deduktif untuk masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi
terhadap pembaca.
Bekaso, November 2015
Penyusun
i
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR..........................................................................................
i
DAFTAR
ISI.......................................................................................................
ii
BAB
I PENDAHULUAN....................................................................................1
1.1 Latar Belakang.....................................................................................1
1.2 Rumusan
Masalah................................................................................1
1.3 Tujuan
Penulisan..................................................................................1
BAB
II
PEMBAHASAN......................................................................................2
2.1 Pengertian
Penalaran Deduktif..........................................................2
2.2 Menarik Simpulan secara
Langsung................................................2
2.3
Menarik Simpulan secara Tidak
Langsung.........................................3
a.
Silogisme
Kategorial.............................................................4
b.
Silogisme Hipotesis..............................................................6
c.
Silogisme
Alterntif................................................................6
d. Entimen..................................................................................6
BAB III KESIMPULAN.......................................................................................8
DAFTAR
PUSTAKA............................................................................................9
ii
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Manusia memiliki penalaran dimana tak terlepas dari
pengguna bahasa. Penalaran cenderung sering terjadi dalam kehidupan
sehari-hari. Penalaran juga sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu
masalah. Dalam menyelesaikan masalah tersebut, manusia harus menggunakan
penalarannya dengan baik, agar bisa diselesaikan secara baik.
Berdasarkan uraian di atas,dapatlah dicatat bahwa
proses bernalar atau singkatnya penalaran merupakan proses berpikir yang
sistematik untuk memperoleh kesimpulan berupa pengetahuan.Kegiatan penalaran
mungkin bersifat ilmiah atau tidak ilmiah.Dari prosesnya,penalaran itu dapat
dibedakan sebagai penalaran induktif dan deduktif.penalaran ilmiah mencakup
kedua proses penalaran itu.
Dalam penalaran terdapat proposisi, yang dijadikan
dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya
disebut dengan konklusi (consequence). Terdapat dua metode penalaran yang bisa
digunakan, yaitu penalaran deduktif dan penalaran induktif.Kami menyadari bahwa
pembahasan mengenai penalaran ini sangatlah penting , terlebih dalam hal
komunikasi. Biasanya apabila kita ingin mendaftar di suatu Universitas atau
melamar pekerjaan, pasti ada tes IQ yang mencakup tes penalaran juga. Berikut
kami akan membahas tentang penalaran deduktif .
1.2 Rumusan Masalah
a) Apakah yang dimaksud penalaran?
b) Apa makna dari berfikir deduktif?
1.3 Tujuan Penulisan
a) Mengetahui maksud dari penalaran.
b) Mengetahui makna dari berfikir deduktif.
1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Penalaran Deduktif
Penalaran Deduktif adalah proses
penalaran untuk manarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku
khusus berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat umum. Proses penalaran ini
disebut Deduksi. Kesimpulan deduktif dibentuk dengan cara deduksi. Yakni
dimulai dari hal-hal umum, menuku kepada hal-hal yang khusus atau hal-hal yang
lebih rendah proses pembentukan kesimpulan deduktif tersebut dapat dimulai dari
suatu dalil atau hukum menuju kepada hal-hal yang kongkrit. Contoh :
Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah
kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media
hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan
penanda status social.
Penarikan simpulan (konklusi) secara
deduktif dapat dilakukan secara langsung dan dapat pula dilakukan secara tak
langsung.
2.2 Menarik Simpulan secara Langsung
Simpulan (konklusi) secara langsung
ditarik dari satu premis. Sebaliknya, konklusi yang ditarik dari dua premis
disebut simpulan taklangsung.
Misalnya:
1) Semua S
adalah P. (premis)
Sebagian P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Semua ikan berdarah dingin. (premis)
Sebagian yang berdarah dingin adalah ikan. (simpulan)
2) Tidak satu pun
S adalah P. (premis)
Tidak satu pun P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Tidak seekor nyamuk pun adalah lalat. (premis)
Tidak seekor lalat pun adalah nyamuk. (simpulan)
2
3) Semua S adalah
P. (premis)
Tidak satu pun S adalah tak-P. (simpulan)
Contoh:
Semua rudal adalah senjata berbahaya. (premis)
Tidak satu pun rudal adalah senjata tidak berbahaya. (simpulan)
4) Tidak satu pun
S adalah P. (premis)
Semua S adalah tak-P. (simpulan)
Contoh:
Tidak seekor pun harimau adalah singa. (premis)
Semua harimau adalah bukan singa. (simpulan)
5 Semua S adalah
P. (premis)
Tidak satu pun S adalah tak-P. (simpulan)
Tidak satu pun tak-P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Semua gajah adalah berbelalai. (premis)
Tak satu pun gajah adalah takberbelalai. (simpulan)
Tidak satu pu yang takberbelalai adalah gajah. (simpulan)
2.3 Menarik Simpulan secara Tidak
Langsung
Penalaran deduksi yang berupa
penarikan simpulan secara tidak langsung memerlukan dua premis sebagai data.
Dari dua premis ini akan dihasilkan sebuah simpulan. Premis yang pertama adalah
premis yang bersifat umum dan premis yang kedua adalah premis yang bersifat
khusus.
Untuk menarik simpulan secara tidak
langsung ini, kita memerlukan suatu premis (pernyataan dasar) yang bersifat
pengetahuanyang semua orang sudah tahu, umpamanya setiap manusia akan mati,
semua ikan berdarah dingin, semua sarjana adalah lulusan perguruan tinggi, atau
semua pohon kelapa berakar serabut.
Beberapa jenis penalaran deduksi
dengan penarikan secara tidak langsung sebagai berikut.
3
a.
Silogisme Kategorial
Yang dimaksud dengan kategorial
adalah silogisme yang terjadi dari tiga proposisi. Dua proposisi merupakan
premis dan satu proposisi merupakan simpulan. Premis yang bersifat umum disebut
premis mayor dan premis yang bersifat khusus disebut premis minor.
Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term
minor dan predikat simpulan disebut term mayor.
Contoh:
Semua manusia bijaksana.
Semua polisi adalah bijaksana.
Jadi, semua polisi bijaksana.
Untuk menghasilkan simpulan harus ada term penengah sebagai
penghubung antara premis mayor dan premis minor. Term penengah adalah silogisme
diatas ialah manusia. Term penengah hanya terdapat pada premis, tidak
terdapat pada simpulan. Kalau term penengah tidak ada, simpulan tidak dapat
diambil.
Contoh:
Semua manusia tidak bijaksana.
Semua kera bukan manusia.
Jadi, (tidak ada kesimpulan).
Aturan umum silogisme kategorial adalah sebagai
berikut.
a) Silogisme harus
terdiri atas tiga term, yaitu term mayor, term minor dan term penengah.
Contoh:
Semua atlet harus giat berlatih.
Xantipe adalah seorang atlet.
Xantipe harus giat berlatih.
Term
mayor
= Xantipe.
Term minor
= harus giat berlatih.
Term penengah
= atlet.
Kalau lebih dari tiga term, simpulan akan menjadi
salah.
Contoh:
Gambar itu menempel di dinding.
Dinding itu menempel di tiang.
4
Dalam premis ini terdapat empat term yaitu gambar,
menempel di dinding, dan dinding menempel ditiang. Oleh sebab itu, disini tidak
dapat ditarik kesimpulan.
b) Silogisme
terdiri atas tiga proposisi, yaitu premis mayor, premis minor dan simpulan.
c) Dua premis yang
negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
Contoh:
Semua semut bukan ulat.
Tidak seekor ulat pun adalah manusia.
d) Bilah salah satu
premisnya negatif, simpulan pasti negatif.
Contoh:
Tidak seekor gajah pun adalah singa.
Semua gajah berbelalai.
Jadi, tidak seekor singa pun berbelalai.
e) Dari premis
yang positif, akan dihasilkan simpulan yang positif.
Contoh:
f)
Dari dua premis yang khusus, tidak dapat ditarik satu simpulan.
Contoh:
Sebagian orang jujur adalah petani.
Sebagian pegawai negeri adalah orang jujur.
Jadi, . . . (tidak ada simpulan)
g) Bila salah satu
premis khusus, simpulan akan bersifat khusus.
Contoh:
Semua mahasiswa adalah lulusan SLTA.
Sebagian pemuda adalah mahasiswa.
Jadi, sebagian pemuda adalah lulusan SLTA.
h) Dari premis
mayor yang khusus dan premis minor yang negatif tidak dapat ditarik satu
simpulan.
Contoh:
Beberapa manusia adalah bijaksana.
Tidak seekor binatang pun adalah manusia.
Jadi, . . . (tidak ada simpulan)
5
b.
Silogisme Hipotesis
Silogisme hipotesis adalah silogisme
yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi kondisional hipotesis.
Kalau premis minornya membernarkan anteseden,
simpulannya membenarkan konsekuen. Kalau premis minornya menolak anteseden,
simpulan juga menolak konsekuen.
Contoh:
Jika besi dipanaskan, besi akan
memuai.
Besi dipanaskan.
Jadi, besi memuai.
Jika besi tidak dipanaskan, besi
tidak akan memuai.
Besi tidak dipanaskan.
Jadi, besi tidak akan memuai.
c.
Silogisme Alterntif
Silogisme alternatif adalah
silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Kalau
premis minornya membenarkan salah satu alternatif, simpulannya akan menolak
alternatif yang lain.
Contoh:
Dia adalah seorang kiai atau
profesor.
Dia seorang kiai.
Jadi, dia bukan seorang profesor.
Dia adalah seorang kiai atau
profesor.
Dia bukan seorang kiai.
Jadi, dia seorang profesor.
d.
Entimen
Sebenarnya silogisme ini jarang
ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun dalam lisan.
Akan tetapi, ada bentuk silogisme yang tidak mempunyai premis mayor karena
premis mayor itu sudah diketahui secara umum. Yang dikemukakan hanya premis
minor dan simpulan.
Contoh:
Semua sarjana adalah orang cerdas.
Ali adalah seorang sarjana.
Jadi, Ali adalah orang cerdas.
Dari silogisme ini dapat ditarik satu entimen, yaitu “Ali
adalah orang cerdas karena dia adalah seorang sarjana”.
Beberapa contoh entimen:
Dia menerima hadiah pertama karena
dia telah menang dalam sayembara itu.
Dengan demikian, silogisme dapat dijadikan entimen.
Sebaliknya, sebuah entimen juga dapat diubah menjadi silogisme.
7
BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Penalaran menggunakan simbol berupa argumen.
Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis. Dapat juga
dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan
hasil dari rangkaian pengertian. Pada proses induksi atau penalaran induktif
akan didapatkan suatu pernyataan baru yang bersifat umum (general) yang
melebihi kasus-kasus khususnya (knowledge expanding), dan inilah yang
diidentifikasi sebagai suatu kelebihan dari induksi jika dibandingkan dengan
deduksi.Hal ini pulalah yang menjadi kelemahan deduksi. Pada penalaran
deduktif, kesimpulannya tidak pernah melebihi premisnya. Inilah yang ditengarai
menjadi kekurangan deduksi.Alternatif dari penalaran deduktif adalah penalaran
induktif. Perbedaan dasar di antara keduanya dapat disimpulkan dari dinamika
deduktif tengan progresi secara logis dari bukti-bukti umum kepada kebenaran atau
kesimpulan yang khusus sementara dengan induksi, dinamika logisnya justru sebaliknya.
Penalaran induktif dimulai dengan pengamatan khusus
yang diyakini sebagai model yang menunjukkan suatu kebenaran atau prinsip yang
dianggap dapat berlaku secara umum.
Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan
bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang
diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti.
8
DAFTAR PUSTAKA
·
http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaranv
·
http://ykrespati.wordpress.com/2011/10/27/macam-macam-penalaran/v
·
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2012/03/penalaran-deduktif-59/v
·
http://anggitata.wordpress.com/2011/03/11/penalaran-deduktif/v